Search

Sekilas mobil ini tak ada bedanya dengan mobil jemputan pada umumnya namun siapa sangka mobil milik green school ini menggunakan bahan bakar biosolar yang berasal dari minyak goreng sisa rumah tangga. Jadi ini mobil biobus dari green school kita mengisinya dengan bahan bakar dari biosolar yang terbuat dari minyak bekas pakai atau biasa disebut minyak jelantah oleh masyarakat pada umumnya. Biobus ini adalah mobil jemputan pertama di Indonesia yang menggunakan biosolar 100% . untuk memperoleh bahan bakar diosolar ini para siswa mengumpulkan minyak jelantah selanjutnya dengan bantuan organisasi yang bernama Lengis Hijau minyak tadi dikonversi jadi bahan bakar biosolar/biodiesel. Dari minyak jelantah yang dipakai hampir 40 kali yang warnanya sudah hitam pekat kemudian di proses ditambahkan metanol kemudian minyak tersebut akan berpisah menjadi gliserin dan biosolar, biosolar tersebut lah yang kita gunakan sebagai bahan bakar biobus. Green School memang menggunakan teknologi ramah lingkungan, bahkan sekolah ini memiliki compos site untuk mengelola sampah mereka. Sekolah ini juga memiliki panel surya untuk mengkonversi sinar matahari menjadi listrik yang bisa memenuhi pasokan listrik hingga 20%, selain menggunakan panel surya sekolah ini juga menggunakan sistem hydro vortex yaitu memanfaatkan arus sungai untuk menghasilkan listrik. Sistem ini berbeda dengan bendungan biasa, karena tingginya hanya 2 meter dari ketinggian tersebut kita bisa memutarkan air dan memusatkan energi yang kemudian menghasilkan listrik. Dengan sisitem tersebut diharapkan dapat memenuhi listrik sekolah hingga 90 persen. Teknologi hydro vortex sudah di terapkan di banyak negara dan untuk di sekolah green screen di pulau Bali penerapannya belum maksimal. Teknologi ramah lingkungan kini sudah mulai diterapkan di berbagai sekolah di seluruh dunia termasuk Indonesia. Salah satunya adalah sekolah di pulau Bali yang sebagian aktivitasnya menggunakan teknologi ramah lingkungan. Mulai dari bahan bakar biodiesel untuk bis jemputan hingga panel surya untuk memenuhi 20 persen kebutuhan listrik sekolah.

Sekilas mobil ini tak ada bedanya dengan mobil jemputan pada umumnya namun siapa sangka mobil milik green school ini menggunakan bahan bakar biosolar yang berasal dari minyak goreng sisa rumah tangga. Jadi ini mobil biobus dari green school kita mengisinya dengan bahan bakar dari  biosolar yang terbuat dari minyak bekas pakai atau biasa disebut minyak jelantah oleh masyarakat pada umumnya. Biobus ini adalah mobil jemputan pertama di Indonesia yang menggunakan biosolar 100% . untuk memperoleh bahan bakar diosolar ini para siswa mengumpulkan minyak jelantah selanjutnya dengan bantuan organisasi yang bernama Lengis Hijau minyak tadi dikonversi jadi bahan bakar biosolar/biodiesel. Dari minyak jelantah yang dipakai hampir 40 kali yang warnanya sudah hitam pekat kemudian di proses ditambahkan metanol kemudian minyak tersebut akan berpisah menjadi gliserin dan biosolar, biosolar tersebut lah yang kita gunakan sebagai bahan bakar biobus. Green School memang menggunakan teknologi ramah lingkungan, bahkan sekolah ini memiliki compos site untuk mengelola sampah mereka. Sekolah ini juga memiliki panel surya untuk mengkonversi sinar matahari menjadi listrik yang bisa memenuhi pasokan listrik hingga 20%, selain menggunakan panel surya sekolah ini juga menggunakan sistem hydro vortex yaitu memanfaatkan arus sungai untuk menghasilkan listrik. Sistem ini berbeda dengan bendungan biasa, karena tingginya hanya 2 meter dari ketinggian tersebut kita bisa memutarkan air dan memusatkan energi yang kemudian menghasilkan listrik. Dengan sisitem tersebut diharapkan dapat memenuhi listrik sekolah hingga 90 persen. Teknologi hydro vortex sudah di terapkan di banyak negara dan untuk di sekolah green screen di pulau Bali penerapannya belum maksimal.   Teknologi ramah lingkungan kini sudah mulai diterapkan di berbagai sekolah di seluruh dunia termasuk Indonesia. Salah satunya adalah sekolah di pulau Bali yang sebagian aktivitasnya menggunakan teknologi ramah lingkungan. Mulai dari bahan bakar biodiesel untuk bis jemputan hingga panel surya untuk memenuhi 20 persen kebutuhan listrik sekolah.
Share this :

Sekilas mobil ini tak ada bedanya dengan mobil jemputan pada umumnya namun siapa sangka mobil milik green school ini menggunakan bahan bakar biosolar yang berasal dari minyak goreng sisa rumah tangga. Jadi ini mobil biobus dari green school kita mengisinya dengan bahan bakar dari biosolar yang terbuat dari minyak bekas pakai atau biasa disebut minyak jelantah oleh masyarakat pada umumnya. Biobus ini adalah mobil jemputan pertama di Indonesia yang menggunakan biosolar 100% . untuk memperoleh bahan bakar diosolar ini para siswa mengumpulkan minyak jelantah selanjutnya dengan bantuan organisasi yang bernama Lengis Hijau minyak tadi dikonversi jadi bahan bakar biosolar/biodiesel. Dari minyak jelantah yang dipakai hampir 40 kali yang warnanya sudah hitam pekat kemudian di proses ditambahkan metanol kemudian minyak tersebut akan berpisah menjadi gliserin dan biosolar, biosolar tersebut lah yang kita gunakan sebagai bahan bakar biobus. Green School memang menggunakan teknologi ramah lingkungan, bahkan sekolah ini memiliki compos site untuk mengelola sampah mereka. Sekolah ini juga memiliki panel surya untuk mengkonversi sinar matahari menjadi listrik yang bisa memenuhi pasokan listrik hingga 20%, selain menggunakan panel surya sekolah ini juga menggunakan sistem hydro vortex yaitu memanfaatkan arus sungai untuk menghasilkan listrik. Sistem ini berbeda dengan bendungan biasa, karena tingginya hanya 2 meter dari ketinggian tersebut kita bisa memutarkan air dan memusatkan energi yang kemudian menghasilkan listrik. Dengan sisitem tersebut diharapkan dapat memenuhi listrik sekolah hingga 90 persen. Teknologi hydro vortex sudah di terapkan di banyak negara dan untuk di sekolah green screen di pulau Bali penerapannya belum maksimal. Teknologi ramah lingkungan kini sudah mulai diterapkan di berbagai sekolah di seluruh dunia termasuk Indonesia. Salah satunya adalah sekolah di pulau Bali yang sebagian aktivitasnya menggunakan teknologi ramah lingkungan. Mulai dari bahan bakar biodiesel untuk bis jemputan hingga panel surya untuk memenuhi 20 persen kebutuhan listrik sekolah.

Sekilas mobil ini tak ada bedanya dengan mobil jemputan pada umumnya namun siapa sangka mobil milik green school ini menggunakan bahan bakar biosolar yang berasal dari minyak goreng sisa rumah tangga. Jadi ini mobil biobus dari green school kita mengisinya dengan bahan bakar dari biosolar yang terbuat dari minyak bekas pakai atau biasa disebut minyak jelantah oleh masyarakat pada umumnya. Biobus ini adalah mobil jemputan pertama di Indonesia yang menggunakan biosolar 100% . untuk memperoleh bahan bakar diosolar ini para siswa mengumpulkan minyak jelantah selanjutnya dengan bantuan organisasi yang bernama Lengis Hijau minyak tadi dikonversi jadi bahan bakar biosolar/biodiesel. Dari minyak jelantah yang dipakai hampir 40 kali yang warnanya sudah hitam pekat kemudian di proses ditambahkan metanol kemudian minyak tersebut akan berpisah menjadi gliserin dan biosolar, biosolar tersebut lah yang kita gunakan sebagai bahan bakar biobus. Green School memang menggunakan teknologi ramah lingkungan, bahkan sekolah ini memiliki compos site untuk mengelola sampah mereka. Sekolah ini juga memiliki panel surya untuk mengkonversi sinar matahari menjadi listrik yang bisa memenuhi pasokan listrik hingga 20%, selain menggunakan panel surya sekolah ini juga menggunakan sistem hydro vortex yaitu memanfaatkan arus sungai untuk menghasilkan listrik. Sistem ini berbeda dengan bendungan biasa, karena tingginya hanya 2 meter dari ketinggian tersebut kita bisa memutarkan air dan memusatkan energi yang kemudian menghasilkan listrik. Dengan sisitem tersebut diharapkan dapat memenuhi listrik sekolah hingga 90 persen. Teknologi hydro vortex sudah di terapkan di banyak negara dan untuk di sekolah green screen di pulau Bali penerapannya belum maksimal.

Teknologi ramah lingkungan kini sudah mulai diterapkan di berbagai sekolah di seluruh dunia termasuk Indonesia. Salah satunya adalah sekolah di pulau Bali yang sebagian aktivitasnya menggunakan teknologi ramah lingkungan. Mulai dari bahan bakar biodiesel untuk bis jemputan hingga panel surya untuk memenuhi 20 persen kebutuhan listrik sekolah.

Facebook Comments
Share this :

Leave a Comment

Translate »