Search

Meninggalnya Petinju Dunia Muhammad Ali dan Kisah Kunjungannya Di Jakarta

Meninggalnya Petinju Dunia Muhammad Ali dan Kisah Kunjungannya Di Jakarta
Share this :

Meninggalnya petinju dunia Muhammad Ali beberapa hari yang lalu tepatnya pada 3 Juni 2016 tak hanya meninggalkan duka bagi dunia pertinjuan internasional. Sosok yang menjuluki dirinya sebagai “The Greates” ini juga mengisahkan duka tersendiri bagi Ibu Kota Jakarta. Kota yang pernah disambangi oleh Ali pada tahun 1973 ini menyimpan beberapa kenangan dengan petinju asal Amerika Serikat tersebut. Tak hanya pada 1973, selang beberapa tahun kemudian yakni pada tahun 1974 dan 1996, Ali juga kembali berkunjung ke Jakarta. Maka tak heran jika kabar meninggalnya petinju dunia kelas berat ini pada Jumat malam pekan lalu memberikan duka yang mendalam bagi Jakarta dan masyarakat Indonesia.

Pada tahun 1973 tepatnya tanggal 20 Oktober 1973, Ali mengunjungi Jakarta, untuk bertanding melawan Rudi Lubbers dalam pertandingan tinju kelas berat tanpa gelar. Pertandingan yang digelar di Gelora Bung Karno dipenuhi oleh ribuan penonton yang ingin melihat secara langsung atlet idola mereka bertarung di atas ring. Hasil pertandingan ini pun berbuah manis bagi penggemar Ali, setelah melewati 12 ronde akhirnya Lubbers harus menyerah dan mengirim Ali keluar sebagai juara dengan keunggulan angka yang mutlak. Keluarnya Ali sebagai juara dalam pertandingan ini pun disambut dengan meriah oleh penonton yang terus mengelu-elukan sosok yang lahir di Kentucky, Amerika Serikat ini.

    |Baca juga : Insiden Tewasnya Luis Salom di MotoGP Catalunya

Selang setahun kemudian yakni pada tahun 1974, Ali juga dikabarkan kembali mengunjungi Tanah Air untuk melakukan ceramah di depan ratusan jemaah yang memenuhi masjid di Al-Azhar. Diketahui, Ali memang telah memeluk agam Islam sejak 1964 segera setelah dirinya memenangkan pertandingan dengan Liston di Florida, Amerika Serikat. Kunjungannya kali ini ke Ibu Kota Jakarta adalah untuk menceritakan kebanggaannya akan Agama Islam yang dianutnya. Di hadapan jemaah yang hadir, Ali menyerukan kepada jamaah untuk percaya kepada Allah SWT dan Rasul Nya, Nabi Muhammad SAW. Tak hanya itu, Ali juga mengingatkan kepada seluruh umat muslim bahwa semua umat muslim adalah saudara. Selesai ceramah, Ali kemudian mendapatkan hadiah berupa kopiyah dan baju batik yang langsung dipakainya pada saat itu.

Setelah kedatangannya ke Jakarta pada 1974 lalu, selang 22 tahun kemudian, Ali kembali menginjakkan kakinya di Ibu Kota. Berbeda dengan dua kunjungan sebelumnya, kedatangannya saat itu ke Jakarta adalah untuk berlibur dan menemui beberapa pejabat tinggi pemerintahan saat itu seperti Menteri Penerangan, Harmoko, dan Menteri Agama, Tarmizi Taher. Kemudian, pada dekade yang sama, Ali kembali berkunjung ke Indonesia dalam rangka misi kemanusiaan dengan lembaga Global Village Champions Foundation. Dalam kunjungannya saat itu, disebutkan dalam sebuah blog, Jackie Bigford menceritakan kebaikan Ali yang mentraktir sekitar 100 orang yang mengerubunginya saat tengah makan di salah satu restoran sepat saji.

     |Baca juga : Indonesia di Australia Badminton Open Super Series 2016

Kenangan yang lahir dari sosok juara dunia tinju kelas berat di Indonesia ini tentu tak mudah hilang begitu saja di ingatan masyarakat Tanah Air saat ini. Maka saat munculnya berita tentang meninggalnya petinju dunia Muhammad Ali di media sontak mengagetkan seluruh penggemar Ali di Indonesia. Ali memang diketahui sebelumnya tengah mengidap radang paru-paru pada tahun 2014 silam. Namun, kondisinya sepertinya kurang membaik hingga pada Kamis, 2 Juni 2016, Ali dilarikan ke rumah sakit Phoenix dan berselang satu hari seluruh media di dunia memberitakan tentang meninggalnya petinju dunia Muhammad Ali

Facebook Comments
Share this :

Related posts

Leave a Comment

Translate »