Search

Mengenal Lebih Dekat Industri Tradisional Emping Melinjo

Mengenal Lebih Dekat Industri Tradisional Emping Melinjo
Share this :

Dusun Kepuh di Kulon Wirokerten Banguntapan yang selama ini dikenal sebagai salah satu tempat atau sentra industri kecil pembuat emping melinjo yang tradisional tepatnya berada di Kabupaten Bantul, kota Yogyakarta. Secara tradisi, masyarakat yang berada di sekitar Dusun Kepuh Kulon mewarisi keahlian untuk bisa memproduksi emping melinjo dari orang tua mereka yang terdahulu. Sampai dengan saat ini, puluhan orang yang tinggal di Dusun Kepuh Kulon masih mempertahankan tradisi memproduksi emping melinjo yang masih dilakukan dengan cara tradisional tersebut, baik sebagai pelaku usaha atau produsen atau pun sebagai tenaga kerja atau tenaga produksinya. Kondisi yang sudah turun-temurun tersebut telah menjadikan Dusun Kepuh Kulon ini beberapa kali ditunjuk sebagai perwakilan dari daerah yang telah memiliki kategori sebagai masyarakat yang produktif, baik di dalam tingkat desa sampai dengan tingkat skala nasional. Ketika kita mengunjungi Dusun Kepuh Kulon ini, kita bisa menemui salah seorang produsen yang memproduksi emping melinjo yang sampai dengan saat ini masih mempertahankan proses produksi emping melinjo-nya dengan cara menggunakan peralatan yang tergolong sederhana atau tradisional, karena semua proses produksi emping melinjo masih menggunakan dengan cara manual. Salah seorang pemilik produksi emping melinjo, yaitu bernama Mbah Pujo Utomo. Mbah Pujo Utomo ini dikenal sebagai salah satu seorang produsen pembuat emping melinjo. Mbah Pujo Utomo juga menjadi satu dari beberapa produsen emping melinjo generasi pertama yang masih bertahan sampai dengan saat ini. Sekarang ini usia Mbah Pujo Utomo sudah menginjak 70 tahun lama-nya. Mbah Pujo Utomo saat sekarang ini sudah mewariskan pengelolaan usaha produksi emping melinjo-nya yang dulu terkenal dengan menggunakan nama atau brand Pujasari tersebut kepada putra-nya yang bernama Nur Mustofa yang sekarang masih berusia 35 tahun.

Nur Mustofa mengungkapkan bahwa terdapat beberapa alasan mengapa masih menggunakan peralatan yang manual atau tradisional di dalam proses produksi pembuatan emping melinjo. “Pada saat terdahulu kita sudah pernah mencoba untuk memproduksi emping melinjo menggunakan mesin, tetapi kualitas dan rasa emping melinjo-nya malah menurun, sehingga kita kembali menggunakan peralatan tradisional serta perlakuan manual di dalam pembuatan emping melinjo. Hal ini dilakukan supaya kualitas rasa emping melinjo-nya bisa tetap terjaga,” jelas Nur Mustofa. Kendati demikian, walaupun menggunakan peralatan manual yang masih tradisional, namun pihak Nur Mustofa tidak pernah kuatir dengan kapasitas produksi pembuatan emping-melinjo-nya, karena di dalam proses pembuatan produksi emping melinjo ini selalu melibatkan tenaga produksi yang jumlah-nya cukup banyak dan tidak sedikit.

Mengenal lebih dekat industri emping mlinjo
Mlinjo mentah sebelum jadi emping

“Kurang lebih ada sekitar 50 orang-an yang terlibat di dalam tenaga untuk produksi membuat emping melinjo ini, kebanyakan dari tenaga produksi emping melinjo adalah ibu-ibu rumah tangga yang bertempat tinggal di sekitar rumah-nya. Setiap hari tenaga kerja produksi emping melinjo ini yang merupakan ibu-ibu bisa mengambil bahan baku melinjo yang kemudian di bawa ke rumah masing-masing tenaga kerja produksi emping melinjo tersebut untuk diolah, dan setelah itu lalu disetor lagi yang sudah dalam bentuk emping mentah dan belum digoreng,” penjelasan Nur Mustofa terkait dengan tenaga produksi emping-melinjo-nya.

Ada pun emping melinjo yang diproduksi terbagi ke dalam 3 jenis, yang bisa dibedakan dari jumlah melinjo-nya, yaitu ada yang menggunakan 1 buah melinjo untuk kelas super, ada yang menggunakan 2 buah melinjo, dan yang terakhir ada juga yang menggunakan 3 buah melinjo. Hasil akhir dari ketiga jenis produksi melinjo tersebut bisa dibedakan dari tingkat ketebalan dan juga ukuran dari masing-masing emping melinjo-nya.

Bukan menjadi rahasia lagi apabila proses produksi di dalam pembuatan emping melinjo itu gampang-gampang susah. Umumnya melinjo yang layak untuk dipanen memiliki warna kulit yang merah, kemudian melinjo tersebut dikupas dari kulit-nya. Setelah itu, melinjo yang telah dikupas tersebut dijemur di bawah terik sinar matahari sampai melinjo-nya kering. Biji melinjo yang sudah kering kemudian digoreng dengan menggunakan pasir tujuannya supaya hangat sehingga biji melinjo mudah untuk digerus guna untuk menanggalkan kulit ari melinjo-nya. Setelah itu, biji melinjo yang sudah putih serta bersih disangrai sampai dengan hangat. Tujuannya, yaitu agar melinjo empuk saat ditumbuk atau digepengkan sesuai dengan bentuk dan ukuran dari melinjo-nya. “Secara umum tidak terlalu sulit untuk melakukan produksi pembuatan emping melinjo ini, tetapi untuk dapat menghasilkan emping melinjo yang renyah dengan ketebalan yang tipis diperlukan ketekunan serta ketelatenan ekstra,” tutur Nur Mustofa.

Emping mlinjo siap di makan
Emping mlinjo siap di makan

Menurut pengakuan pemilik atau produsen emping melinjo, Nur Mustofa, selama ini emping melinjo yang memiliki kualitas yang super miliknya adalah paling banyak digemari, karena tekstur emping melinjo yang tipis sehingga renyah ketika dilakukan penggorengan. “Di dalam memproduksi emping melinjo dengan kualitas super ini, yang membuat emping melinjo super itu biasanya para pekerja pembuat emping melinjo yang sudah memiliki pengalaman yang cukup lama. Selain itu, melinjo yang digunakan di dalam proses produksi pembuatan emping melinjo juga merupakan melinjo berkualitas, melinjo pilihan dan melinjo terbaik,. Melinjo yang berkualitas, yaitu melinjo yang baru mengalami proses dikupas, bukan melinjo yang telah diproses dengan kupasan lama,” tambah Nur Mustofa. Tidak kurang dari 500 kilo gram emping melinjo telah diproduksi oleh Nur Mustofa di dalam setiap harinya. Emping-emping tersebut kemudian dipasarkan ke kota Yogyakarta melalui pedagang-pedagang yang selama ini telah menjadi langganan tetapnya. Sebagian pedagang ada juga yang mengambil sendiri emping-nya di rumah kediaman Nur Mustofa, dan sebagian lagi dikirimkan langsung ke Pasar Beringharjo, yang berada di pusat kota Yogyakarta.

Berdasarkan penuturan dari Nur Mustofa, pihaknya memang belum melakukan pemasaran yang secara aktif di pasaran. Hal itu disebabkan karena masih terbatasnya kapasitas produksi pembuatan emping melinjo ini. “Sejujurnya kami juga ingin menjangkau target pasar yang lebih luas lagi, tetapi pada saat sekarang ini kami terkendala dengan kapasitas produksi pembuatan emping melinjo yang kadang-kadang tidak sebanding dengan banyaknya jumlah permintaan pasar, terutama banyaknya jumlah permintaan dari para pedagang, sehingga untuk saat sekarang ini kami hanya bisa fokus untuk memproduksi emping melinjo saja,” ujar Nur Mustofa. Sebelumnya, Nur Mustofa juga telah mengaku bahwa pernah menitipkan emping melinjo-nya di beberapa tempat swalayan dengan menggunakan sistem konsinyasi. Akan tetapi, proses tersebut tidak berjalan dengan lancar. Oleh karena itu, sampai saat sekarang ini tidak pernah menitipkan emping melinjo-nya di swalayan lagi.

Harga emping melinjo dipatok oleh Nur Mustofa untuk produk emping melinjo yang masih di dalam kondisi mentahnya adalah Rp.25 ribu rupiah sampai dengan Rp.26 ribu rupian untuk setiap 1 kilo gram. Sementara itu, untuk emping melinjo yang sudah dalam keadaan matang dan sudah digoreng, mereka menjual emping melinjo-nya dengan harga Rp.10 ribu rupiah untuk setiap 200 gram.

Facebook Comments
Share this :

Related posts

Leave a Comment

Translate »