Berita-online.com, Pinrang – Fenomena kematian massal udang vaname yang kembali terjadi di wilayah tambak Duampanua, Kabupaten Pinrang, bukan sekadar persoalan gagal panen. Penelusuran awal dari sejumlah petani mengungkap adanya dugaan kuat bahwa kualitas air tambak telah terkontaminasi dari beberapa sumber.
Beberapa petani Tambak menyebut warna air berubah tidak normal dalam hitungan jam sebelum kematian hewan budidaya terjadi. Hasil pengamatan sederhana menunjukkan kadar oksigen menurun drastis, diduga akibat masuknya limbah dari saluran tertentu yang terhubung ke sungai.
“Kami lihat air berubah pekat. Tidak mungkin hanya karena cuaca. Ada yang masuk dari luar,” ujar Salah seorang petani tambak, Kepada berita-online.com, Selasa (02/12/2025).
Pada saat bersamaan, sebagian petani mengaku belum pernah melihat pihak dinas Terkait melakukan pengukuran kualitas air secara rutin, termasuk pengecekan pH, amonia, dan keberadaan bakteri patogen.
Ironisnya, kasus kematian massal ini bukan yang pertama. Siklusnya terus berulang, tetapi laporan petani tambak disebut hanya berujung pada imbauan, bukan tindakan investigatif lengkap.
Minimnya pengawasan kawasan tambak dan penegakan aturan lingkungan diduga menjadi faktor utama mengapa persoalan ini terus berulang.
Petani Tambak berharap pemerintah daerah dapat membentuk tim investigasi permanen, melakukan uji laboratorium air dan sedimen tambak, serta menelusuri kemungkinan adanya sumber pencemaran industri atau rumah tangga yang mengalir ke wilayah Duampanua.
“Kami butuh pembuktian ilmiah dan tindakan tegas. Bukan sekadar janji,” kata salah satu petani Tambak lainnya.
